Ranca Pinang , hmm mungkin tak banyak yang mengenal desa dipesisir selatan Provinsi Banten ini. Desa kecil ini menjadi bagian dari Kabupaten Pandeglang. sekilas tidak ada yang istimewa dengan desa agraris ini. Namun pada sebuah kesempatan saat kami berkunjung awal september tahun 2008 ini telah mengubah opini kami para traveler tentangnya. Perkenalan dengan rancapinang berawal dari sebuah pembicaraan ringan dengan rekan bengkel jip ternama dibilangan pejaten, mereka silih berganti cerita tentang keindahan alam dan pengalaman tak terlupakan saat menuju daerah tersebut. "Perjalanan menuju desa itu sangat asyik. yang pasti kita akan melintasi pinggiran pantai yang sarat dengan pemandangan indah" jelas si empu nya bengkel. "Artinya itu adalah Sand Driving sepanjang puluhan kilometer" Sahut rekan yang lain.
Singkat cerita kami mengatur waktu untuk mengunjungi desa yang terletak dipinggir Samudera Indonesia.
Dan SPBU lepas karawaci pun menjadi tempat meeting point kami. Delapan Suzuki Jimny dari berbagai tahun tercatat sebagai kontingen penjelajah ini. Dan Jimny yang saya gunakan tercatat sebagai Jimny paling tua diantara yang lain.

Tak harus menghabiskan waktu lama, begitu rombongan lengkap terkumpul kami segera beranjak Pintu Tol Serang Timur sekaligus menjadi gerbang kami tiba di Kabupaten Pandeglang. Kira-kira 2.30 dini hari rombongan kami sampai di Pantai Bagedeur. Melihat kondisi para driver yang sudah 6 jam menyetir, leader kami mengusulkan untuk bermalam dan pantai Bagedeur menjadi basecamp pertama kami. Angin laut bertiup kencang dan membuat tenda susah di dirikan. Tapi salah satu rekan memberikan ide untuk medirikan tenda di cekungan dekat pohon pandan laut untuk berlindung dari terpaan langsung angin laut. Dan akhirnya berhasil kami mendirikan tenda meskipun pasir pantai ikut masuk ke tenda terbawa angin laut. Singkat cerita pagi pun dateng angin sudah mereda dekat subuh tadi. Banyak rekan yang berfoto-foto pada saat sunrise.Kami bergegas berangkat menuju paling selatan dan ujung paling barat pun dimulai. Pasir kecoklatan Pantai Binuangeun nampak terhampar memanjang dari timur ke barat. Kedelapan Jimny pun serentak mengubah posisi gear menjadi Low gear agar mendapat traksi saat melintasi pasir pantai. Dan kami serentak juga melintasi permukaan pasir yang terkena siraman ombak pantai karena kontur yang lebih padat untuk memudahkan dala mengemudi. Delapan Jimny beriringan dengan jarak 10-20 meter dengan kecepatan menyentuh 110km/jam. Pengalaman yang tiada tara melintasi pasir pantai puluhan kilometer dengan kecepatan tinggi ! waktu pun sudah menunjukan jam 1 siang dan kami sampai di Rancecet, suasana berbeda pun terlihat karena keadaan tanaman yang gersang menja




di coklat. Karena panas yang menyengat kami beristirahat di lantai kayu rumah sekdes. Saat sejuk tiba kami pun berangkat kembali. dan saat pukul 5 sore kami pun tiba di dusun Cegok dan ini lah merupakan wilayah pemukiman terakhir yang berada
paling barat berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon, dusun inilah
ujung paling selatan dan dusun terakhir paling barat di pulau jawa. Kami pun bermalam di dusun ini dirumah penduduklah kami bermalam. Kami pun sempat mengobrol dengan penduduk sekitar yang sangat welcome dengan kedatangan kami. Waktu terasa cepat sudah menunjukan pukul 12 malam, kami pun bergegas tidur karena sebagaian rekan akan melaksanakan sahur. oiaa.. trip kami saat itu bertepatan pada bulan puasa tetapi puasa sungguh tidak terasa karena telah dibayar dengan pemandangan pantai dan pengalaman yang tak terlupakan! tengah hari esok nya kami bersiap-siap untuk kembali kejakarta kegembiaraan yang kami dapat seakan berkolaborasi dengan keprihatinan kekeringan yang sedang melanda daerah itu, keramah-tamahan penduduk yang kami kunjungi serta pengalam mengemudi yang tiada duanya akan selalu menjadi kenangan manis perjalanan ini. Jalur yang kami ambil beda dengan jalur saat datang. Jalur arah Tanjung Lesung menjadi jalur terdekat menuju jakarta.

Farewell Ranca Pinang.... Terima Kasih atas keindahanmu ,keramahtamahanmu dan persahabatan kita. Suatu saat pasti kami kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar